Saat ini di layar kaca banyak sekali ditayangkan sinetron - sinetron dan kebetulan jam tayangnya pada waktu utama ( prime time ). Yang menjadi permasalahan adalah tema dari sinetron tersebut. Kebetulan, meski tidak secara intens menyaksikan, saya bisa mengambil kesimpulan kalau tema nya benar2 kurang mengandung pembelajaran. Dalam arti, porsi antara pesan positif dan negatif tidak berimbang. Produser lebih mengedapankan memasang artis terkenal, meski temanya tidak tepat tapi yang penting mengundang banyak pemasang iklan. Benar - benar berorientasi bisnis.
Tema - tema yang disusung kebanyakan mengumbar kesedihan. Pelaku utama diskenariokan hidup terlunta - lunta dari awal sinetron hingga mendekati akhir sinetron. Meskipun berakhir happy ending, namun penonton disuguhi dengan kejadian - kejadian yang menurut tidak masuk akal. Sebagai contoh, bila ada suatu tindakan kriminal, disini peran polisi seperti dilupakan. Kalaupun dimunculkan, kadang - kadang polisi tidak ditampilkan dengan sebagimana mestinya.
Selain itu, tema - tema yang diusung kebanyakan mengumbar kesedihan, tangis, kelicikan dalam menguasai harta dan sebagainya. Dan kebanyakan tema - tema yang diusungpun kadang - kadang juga mengadopsi dari tanyangan luar negeri. Kenapa kita tidak berusaha membuat sinetron yang mengandung pembelajaran seperti sinetron Si Doel Anak Sekolahan, Kiamat Sudah Dekat? Cerita yang diangkat benar - benar mewakili kehidupan dari kebanyakan kondisi masyarakat Indonesia. Dan benar - benar natural. Dan ternyata sinetron ini juga mendatangkan banyak pemasang iklan.
Dan saya pribadi berharap, Komisi yang bertugas mengawasi semua tanyangan televisi dan juga badan sensor lebih tanggap dan selektif dalam menyikapi hal ini. Lolos tidaknya sensor bukan karena bebas dari unsur SARA, porno saja. Tapi juga efek dari tanyangan ini. Kalau lebih banyak bersifat pembodohan, apakah juga diloloskan?
Jumat, 30 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar