Sudah 2 bulan ini saya menjalani kegiatan dengan menggunakan KRL dengan jalur Tebet - Depok pp. Berangkat pagi dari Tebet dan pulang malam harinya dari Depok. Bersyukur karena jalur ini berlawanan arah dengan jalur pekerja ( dari Bogor - Kota ) yang sangat padat pada pagi hari dan malam hari.
Saya pernah mencoba semua jenis KRL yg ada, ekonomi, AC ekonomi maupun Ekspress. Ya semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing - masing. Baik dari harga tiket, jam keberangkatan maupun kenyamanan. Dan yang paling unik, tentu saja fenomena yang akan kita temui pada KRL ekonomi. Apa itu? Ada pedagang asongan, yang bagaimanapun juga membantu kita bila sedang kehausan,lapar atau mau beli sesuatu. Meski kadang - kadang bila penumpang sedang penuh, keberadaan pedagang ini sangat mengganggu.
Selain itu, adanya "hiburan". Baik dari pengamen yang asal "bersuara" atau yang mini konser dengan membawa peralatan musik dengan pengeras suara. Ya, menurut saya semua ini cukup menghibur. Namun ada satu hal yang cukup mengganggu, yaitu keberadaan pengemis, apapun itu motif dan caranya. Meski tidak memaksa kita untuk memberi, tetapi hal ini sangat mengganggu. Saya nggak tahu, apakah pengelola jasa transportasi ini pura-puranggak tahu atau gak mau tahu. Memang sempat ada penertiban, tapi itu hanya sebagai syok terapi saja. Selebihnya ya kembali seperti semua.
Bagaimanapun juga, mereka para pengemis dan sebagainya perlu diperhatikan. Seyogyanya pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk penanganan masalah seperti ini. Toh mereka juga bagian dari rakyat Indonesia yang secara hukum berhak menikmati apa yang ada pada negara ini. Semoga saja, ke depan pemrintah bisa lebih peduli.
Sabtu, 25 April 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
